Hati-Hati Saat di Korsel, Sebelum Traveling ke Korea Selatan Penting Untuk Baca Ini Dulu!

Hati-Hati Saat di Korsel, Sebelum Traveling ke Korea Selatan Penting Untuk Baca Ini Dulu!

Kali ini saya ingin bercerita mengenai salah satu peristiwa mengejutkan yang kami dapatkan saat traveling ke Korea Selatan, tepatnya di Seoul. Awalnya saya merasa tidak perlu menceritakannya di blog ini. Tetapi setelah saya berpikir kembali, bagaimana ya jika memang kejadian yang kami alami ini terjadi pada muslim traveler lain di Korsel? Saya dan suami juga penasaran, apakah ada juga yang bernasib sama dengan kami yang mengalami peristiwa yang bikin kami syok saat itu?

Kami juga berharap semoga dengan kami berbagi cerita, muslim traveler yang akan traveling ke Korsel bisa terhindar dari kejadian yang kami rasakan ini. Atau jika memang ada yang mengalami kejadian yang sama seperti kami, siapa tau kita bisa saling memberikan informasi. Oya kami tentu langsung penasaran mencari informasi di google dari kejadian yang kami dapatkan. Ternyata juga ada salah satu blog yang juga mengalami peristiwa yang sama dengan kami. Dan berikut kejadian yang kami alami:
Hati-Hati Ditipu di Korsel, Sebelum Traveling ke Korea Selatan Penting Untuk Baca Ini Dulu!
Secara keseluruhan, sebenarnya traveling kedua kami ke Korsel ini sangat menyenangkan. Tapi sayangnya, di akhir perjalanan kami malah mengalami suatu kejadian yang tidak mengenakkan. Kami pun merasa sedih dan “ngeri” saat teringat kembali kejadian itu. Karena kami merasa ditipu dan terjebak dalam cara yang licik dan terorganisasi.

Malam itu sekitar pukul 9 malam, saya dan suami sedang berada di kawasan Hongdae dekat guesthouse kami menginap. Karena besoknya harus mengejar penerbangan pagi, malam itu pun kami hanya ingin makan sebentar lalu kembali ke guesthouse. Namun, saat kami sedang berjalan menuju restoran, ada 2 orang wanita yang menghampiri kami dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Sejak awal mereka sangat teramat ramah terhadap kami. Yang awalnya cuma menegur, lalu bertanya hal-hal umum seperti asal kami, menginap dimana, kapan kembali ke Indonesia dan sebagainya. Hingga akhirnya mereka mulai berusaha menjelaskan kepada kami bahwa mereka adalah mahasiswa yang berbeda kampus namun dipertemukan didalam salah satu kegiatan semacam organisasi / klub yang berhubungan dengan “Kebudayaan Korea Selatan”.

Mereka menceritakan bahwa di kegiatan tersebut, mereka memperkenalkan kegiatan yang berhubungan dengan budaya Korsel kepada para wisatawan, yang salah satunya banyak terdapat wisatawan dari Indonesia. Kemudian juga akan diajak makan bersama (mereka menyebutkan berbagai jenis buah-buahan) hingga ditawari memakai hanbok gratis dan diakhirnya akan berfoto bersama dengan menggunakan hanbok.

Bahkan, mereka juga menunjukkan kepada kami foto-foto dari para wisatawan yang berhanbok di suatu ruangan dengan background tembok saja tanpa terlihat sekeliling ruangannya. Dalam foto-foto tersebut, terlihat beberapa beberapa wisatawan berhijab yang mungkin berasal dari Indonesia / Malaysia. Dan akhirnya, malam itu juga pun kami langsung diajak untuk bergabung dalam kegiatan tersebut (karna mereka sudah tau kami esok pagi kembali ke Jakarta). Mereka pun dengan gigih terus menerus membujuk kami agar mau ikut.

Saat kami bertanya mengapa bisa langsung mendadak sekali dan diadakan malam-malam kegiatan tersebut? Mereka menjelaskan bahwa di tempat organisasi tersebut sudah terdapat beberapa wisatawan dan mereka juga ingin menuju apartement tersebut untuk memulai acaranya. Mereka juga meyakinkan kami, bahwa kami akan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan di Seoul.

Sebenarnya dari awal saya kurang tertarik dengan tawaran mereka karena sebelumnya saya sudah 2 kali mencoba hanbok. Pertama, saya menyewa hanbok saat mengunjungi Gyeongbokgung dan kedua saat mencoba hanbok gratis di KTO Seoul Office. Apalagi besok di KTO Incheon, kami memang berencana untuk mencoba hanbok lagi sambil menunggu waktu terbang. Suami saya memang kurang puas saat mencoba hanbok gratis di KTO Seoul karena saat itu sudah hampir tutup jadi terburu-buru banget. Dan saat di Gyeongbokgung hanya saya yang menyewa hanbok. Suami saya pun menyarankan kepada saya, dari pada besok di KTO Incheon lebih baik mencoba hanbok gratisnya malam ini dengan mereka.

Hati-Hati Ditipu di Korsel, Sebelum Traveling ke Korea Selatan Penting Untuk Baca Ini Dulu!

Dan akhirnya kami pun menyetujui ajakan mereka dan segara naik subway menuju ke stasiun terdekat dari tempat kegiatan tersebut yaitu Stasiun Gwangmyeongsageori (seinget kami nama itu Stasiunnya). Selama dalam perjalanan sekitar 30-45 menit, kami isi dengan mengobrol. Mereka pun sangat aktif mengajak kami mengobrol hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan Korea dan maupun kebudayaan Indonesia. Dengan sikapnya yang ramah mereka juga beberapa kali memuji kebudayaan maupun kecantikan Indonesia. Mereka bahkan juga menanyakan “apakah kami suka kucing atau anjing?” Saya menjawab, “saya sebenarnya suka kucing namun tidak diizinkan oleh suami, kalau anjing saya takut dan trauma karna pernah hampir digigit anjing saat masih kecil”

Setibanya di Stasiun Gwangmyeongsageori kami pun keluar lalu berjalan sebentar untuk menuju tempat tersebut. Semenjak keluar dari stasiun perasaan saya sudah terasa tidak enak. Dalam benak saya, kok tempat kegiatan untuk memperkenalkan kebudayaan Korsel, tapi malah berada di lingkungan seperti ini? (agak di pinggiran, berbeda dengan KTO Seoul Office yang berada di pusat kota, dekat Myeongdong).

Lalu salah satu dari mereka menanyakan kepada saya, nama lengkap, tanggal lahir dan apa impian atau harapan. Saya pun langsung bertanya, “untuk apa?” Dia menjawab, “nanti akan ditulis data dan harapan tersebut untuk kemudian dibakar kertas tersebut”. Perasaan saya pun seketika semakin merasa tidak enak. Kenapa harus perlu data kami dan pake ada acara bakar-bakar seperti itu? Padahal kami cuma ingin foto pake hanbok dan udah, pulang ke guesthouse. Karena takut yang tidak-tidak, saya jawab asal-asalan saja tanggal lahir dan nama lengkap saya.

Suami saya juga ditanyakan demikian dengan wanita yang satu lagi, namun langsung saya cegah dengan Bahasa Indonesia (karna tau pasti mereka tidak mengerti Bahasa Indonesia). “Mas jangan kasih tau yang sebenernya, jawab aja asal-asalan dan billang udah sama aku aja.” Dan… Alhamdulillah suami saya nurut.

Akhirnya kami berhenti di salah satu gedung semacam apartemen, lalu mereka menjelaskan bahwa acara kegiatannya berada dilantai atas gedung tersebut. Saya yang memang perasa(sensitive), hati saya semakin DEG melihat gedung itu dan berguman dalam hati. “Kok gedungnya kayak gini, beda banget dengan KTO. Namun sayangnya suami saya belum melihat adanya keanehan itu. Dan kami pun terus “digiring” naek ke atas dengan lift sambil terus mengajak kami mengobrol dengan RAMAH.

Hati-Hati Ditipu di Korsel, Sebelum Traveling ke Korea Selatan Penting Untuk Baca Ini Dulu!*KTO Seoul dekat Myeongdong

Sesampainya di lantai tersebut dan baru saja memasuki salah satu ruangan untuk membuka sepatu, ternyata perasaan tidak enak dan rasa takut saya semakin menjadi. Itu karena saya sempat melihat beberapa turis pria yang hanya menggunakan baju dengan model kimono berwarna putih! Mereka tidak menggunakan pakaian tradisional Korsel pada umumnya yang saya lihat tempat penyewaan hanbok ataupun di film dan drama Korsel. Rasanya saya ingin memberi tau suami saya untuk jangan mau menggunakan baju putih tersebut. Namun, sayangnya suami saya sudah dibawa di ruang baju lelaki yang terpisah dengan saya 🙁 🙁

Dengan sikap yang sangat ramah dan penuh hati-hati seseorang juga “menggiring” saya ke ruangan Hanbok. Langkah saya sudah berat dan sudah ingin menangis. Namun apa daya, saat itu saya hanya bisa mengikuti dahulu saja arahan mereka untuk ke ruangan hanbok. Karena saya melihat hanbok yang para turis wanita gunakan masih model hanbok pada umumnya.

Saat menuju ruang untuk memilih hanbok saya diberitahu untuk berjalan pelan, jangan berisik. Daaaaaann saat itu lah rasanya saya ingin langsung kabur saja dari tempat itu…..! Karena saya melihat beberapa orang dari anggota “klub” mereka, sedang menulis sesuatu (bukan tulisan latin) di kertas putih dengan menggunakan tinta. Saya langsung merasa itu mungkin tulisan tanggal lahir dan bulan yang ditanyakan tadi. Setelah itu saya juga melihat beberapa turis wanita yang sudah berhanbok dan turis pria yang berbaju putih sedang melakukan gerakan seperti bersujud di hadapan meja yang sudah dihiasi dengan berbagai makanan. Saya melihat terdapat buah-buahan dan juga melihat botol semacam SOJU. Sayapun mencium bau dupa dan terdengar suara seperti nyanyian dari seseorang yang memimpin kegiatan tersebut! Saya semakin benar-benar ingin kabur! namun saya ditahan, apalagi masih terpisah dengan suami.

Akhinya saya tidak merespon pertanyaan dia, sampe-sampe dia yang memilihkan hanbok untuk saya. Lalu saya “digiring” kembali ke ruangan ganti baju. Dan di ruang ganti baju tersebut, betapa terkejutnya saya saat melihat ada seorang wanita berkerudung yang sudah menggunakan hanbok, sedang diajarkan gerakan seperti bersujud 🙁 percis dengan gerakan para turis yang saya lihat sebelumnya.

Awalnya saya diminta untuk melepas pakaian saya saat menggunakan hanbok, namun langsung saya tolak dan kamipun mulai berdebat. Sampai akhirnya saya terpaksa memakai hanbok namun saya tetap paksa doble dengan pakaian lengkap saya. Sebelum mereka menyuruh saya yang lebih parah lagi (berlajar bersujud), sayapun berkali-kali meminta dengan sangat tegas bahwa saya harus bertemu suami saya. Namun mereka selalu mengelak, sehingga kami pun semakin berdebat. Karena keadaannya menjadi cukup riweh, sesorang dari mereka menelpon temannya agar suami saya dibawa ke tempat saya. Mungkin dari pada saya semakin memberontak dan bisa mengganggu, akhirnya saya segera dipertemukan kembali dengan suami namun diminta menunggu sebentar.

Dan…. seorang muslim yang sudah ber-hanbok sempat bertanya kepada saya dengan muka yang penuh khawatir, “kak gimana ini? aku sebenernya gak mau”. Saya menjawab, “ya kamu kenapa mau disuruh-suruh seperti itu? Ini aku pokoknya gak mau, mau ke suami.”

Akhirnya saya pun dipersilahkan keluar ruangan untuk ketemu suami. Namun sayangnya saya tidak bisa menolong wanita berkerudung itu karna dia sudah segera disuruh gabung bersama para turis 🙁 Saya pun sempat melihat dia sedang mengikuti gerakan seperti bersujud tersebut 🙁 saat melihatnya saya merasa sangat sedih tidak bisa menolong dan kasian kenapa dia tidak menolak / ikut memberontak dengan saya? 🙁

Begitu melihat suami, saya merasa sangat LEGA…. Ditambah saya tidak melihatnya menggunakan baju putih tersebut, masih berpakaian lengkap seperti awal. Dengan Bahasa Indonesia saya langsung menceritakan dengan singkat apa yang saya alami. Dan ternyata suami saya juga langsung menolak saat disuruh untuk mengganti pakaian putih tersebut. Suami pun juga dengan tegas meminta untuk dipertemukan dengan saya.

Ternyata, perdebatan kami belum selesai dan kami malah dihadapi dengan beberapa orang disana (salah satunya ada seorang pria yang sangat MENYEBALKAN dan raut muka yang TIDAK RAMAH). Mereka bahkan tetap menahan kami dengan cara yang sudah tidak baik lagi agar kami tidak pergi. Saya yang saat itu masih menggunakan hanbok langsung membuka hanbok tersebut sesuai perintah suami. Alhamdulilah bangeeeeettt dari awal saya men-double pakaiannya! Awalnya mereka terus menahan saya. Namun saya tetap membuka hanbok dan sudah tidak memperdulikan mereka karena yang ada dipikiran kami yaitu hanya ingin keluar dari tempat itu! Suami pun menggenggam tangan saya dan mengajak kami keluar dari gedung tersebut. Hingga akhirnya, salah satu dari merekapun melunak dan menawarkan kami untuk mengantar ke stasiun.

Namun, begitu sudah sampai lantai paling bawah dan ingin keluar lift, tiba-tiba ada seorang pria yang ingin masuk ke lift untuk naek keatas dengan membawa anjing. Yang mana anjing tersebut NYARIS menggigit kaki saya. Setelah saya memberontak teriak ketakutan, akhirnya pria tersebut pergi keluar lagi dengan anjingnya, malah tidak jadi naek lift). Harusnya kalau memang dia penghuni salah satu kamar di gedung apartemen tersebut dan ingin kembali ke kamar, dia bisa menenangkan anjingnya dan menyingkir sebentar sampai kami benar-benar keluar dari lift dan dia bisa masuk ke lift bersama anjingnya. Ini kok tidak?? dia malah memilih keluar lagi dengan anjingnya, padahal saat itu sudah sekitar jam 11 malam!

Selama berjalan kaki menuju stasiun dari apartemen, wanita yang mengantar kami juga berkali-kali menegaskan kalau ini adalah benar-benar kegiatan “kebudayaan Korea Selatan” dan kami jangan salah sangka. Tetapi saya dan suami hanya tersenyum tipis, tidak semudah itu mempercayainya karena banyak hal-hal aneh yang kami rasakan.

Mulai dari awal yang sangat ramah, terlihat sangat tertib dan terlatih kerja mereka untuk mengajak seseorang. Lalu kenapa dalam foto para turis berhanbok yang ditunjukkan kepada kami, hanya dengan background tembok saja (tidak satu ruangan, sehingga bisa terlihat area untuk melakukan gerakan semacam bersujud). Lalu kalau kegiatan memperkenalkan kebudayaan korsel mengapa di tempat dan lingkungan seperti itu? Kenapa ada kegiatan semacam bersujud, bau dupa, dan ada botol minuman?? (padahal niat kami cuma ingin pakai hanbok dan berfoto). Dan mengapa kami benar-benar ditahan hingga berdebat karena menolak tidak ingin melakukan yang mereka suruh?? Di KTO saja kami benar-benar tidak merasakan paksaan apapun, merasa nyaman dan malah terdapat prayer room (mushola) yang bersih dan nyaman. Yang juga aneh, mengapa saat di subway menuju tempat tersebut mereka menanyakan kepada kami mengenani anjing dan kucing?? Lalu saat kami berhasil keluar dari tempat itu, tiba-tiba di lift ada seoranng yang ingin masuk lift dengan membawa anjing yang langsung menyerang saya dan NYARIS menggigit kaki saya?!

Hati-Hati Ditipu di Korsel, Sebelum Traveling ke Korea Selatan Penting Untuk Baca Ini Dulu!*Suasana di KTO Seoul yang sangat nyaman

Di subway sepanjang perjalanan menuju guesthouse, kami terus bertukar cerita dan mengingat ulang kejadian tersebut… yang saya dan suami saya rasakan yaitu sama: merasa dijebak. Mereka sangat terlatih dan kami HAMPIR tidak bisa kabur. Alhamdulillah, bersyukur bangeeeeeettttt kami berdua sama-sama berani berontak menolak. Tapi, bagaimana nasib para turis lainnya yang sebenernya mereka juga merasakan hal yang tidak beres, namun tidak bisa kabur?? Karena begitu kita masuk dalam gedung tersebut, rasanya hampir sulit untuk kabur tanpa mengikuti semua arahan mereka tersebut!

Kami juga sedih karena saat berusaha menelusuri di google maps kami benar-benar tidak inget yang mana gedungnya. Karena kejadiannya malam hari dan kami merasa panik banget, maka yang ada dipikiran kami gimana caranya segera kabur, langsung menuju stasiun untuk kembali ke guesthouse.

Kami  pun sudah sempat melaporkan kejadian ini ke KTO (Korea Tourism Organization) dengan mengirim email, setelah saya juga sempat menceritakan di KTO Jakarta. Sebenarnya, respon KTO sangat baik dan mereka berusaha akan membantu. Tetapi sayang KTO kesulitan karena tidak ada keterangan foto yang jelas dari gedung tersebut. Saya juga sudah melampirkan rekomendasi link / website yang juga bercerita mengenai peristiwa yang percis kami alami ini. Namun sayangnya, KTO juga masih kesulitan 🙁

Saya pun berdoa dan sangat berharap kedepannya tidak akan pernah terjadi pada para turis lain.. Aamiin. Oya, kalo ada yang pernah mengalami peristiwa seperti ini bisa info dan sharing yaaa :*



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


%d bloggers like this: